بسم الله الر من الر حيم

Dengan nama Allah yang maha Pengasih lagi Penyayang. Semoga Sholawat dan salam tetap tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad saw dan keluarganya dan para sahabatnya yang mulia.

Janggut dan keutamaannya


Hadist 1
 
Aisyah r.a, berkata bahwa Rasulullah saw, bersabda, "Sepuluh perkara adalah fitrah, di antaranya memotong kumis dan menumbuhkan janggut" (hadist shahih riwayat muslim, jilid I hal. 129)
 
 
Hadist 2
 
Dari Ibnu Umar r.a, Nabi saw, bersabda, "Guntunglah kumismu dan panjangkanlah janggutmu." Dalam riwayat lain, sesungguhnya Nabi saw, memerintahkan kami menggunting kumis dan memanjangkan janggut.
 
 
Hadist 3
 
Dari Ibnu Umar ra, berkata bahwa Rasulullah saw, bersabda, "Lawanlah orang-orang musyrik dengan memanjangkan janggutmu dan menggunting kumismu. (Muttafaq alaih – Misykat hal 380)
 
 
Hadist 4
 
Dari Abu Hurairah ra, berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, "Guntinglah kumismu dan tumbuhkanlah janggutmu, karena dengan demikian kamu menentang kaum majusi (penyembah api)." (Shahih Muslim 129)
 
 
Hadist 5
 
Dari Zaid bin Arqam ra, sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda. "Barang siapa tidak memotong kumisnya, maka bukan dari golongan kami." (Hr. Ahmad, Tirmidzi dan Nasa'I – Misykat)
 
 
Hadist 6
 
Dari Ibnu Abbas ra, berkata bahwa Rasulullah saw, bersabda, "Allah melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki." (Hr. Bukhari)
 
 
Keutamaan2 memelihara janggut :
 
1. Dari hadist ke-1 di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa menggunting kumis dan menumbuhkan janggut adalah sesuai qudrat manusia. Sebaliknya, memanjangkan kumis dan mencukur janggut bertentangan dengan qudrat. Orang yang perbuatannya berlawanan dengan kecenderungan alam berarti merusak pemberian alam.
 
 
Iblis yang dilaknat telah bersumpah bahwa dia akan menyeru anak cucu adam a.s kepada kesesatan dan mendorong mereka untuk melakukan amal-amal tertentu yang dianggap shalih dengan maksud untuk merusak citra ciptaan Allah swt. (baca surat an-nisa ayat 117)
 
 
Di dalam tafsari Haqani dan Bayanul Qur'an disebutkan bahwa mencukur janggut dan memanjangkan kumis merusak citra manusia, karena Allah swt menganugerahkan nikmat berupa janggut untuk meninggikan derajatnya. Sebaliknya, orang yang memanjangkan kumis dan mencukur janggut telah disesatkan oleh iblis dengan mengubah keadaan asli wajahnya.
 
 
Keadaan alami manusia yang wajar tercermin dalam kehidupan para nabi a.s. Oleh karena itu, amal perbuatan manusia hanya akan mendapatkan keridhaan Allah apabila manusia mengikuti suri teladan para nabi a.s. Ringkasnya, menggunting kumis dan menumbukkan janggut adalah sunnah para nabi yang berjumlah kurang lebih dari 124.000 orang. Mereka adalah kumpulan orang shalih yang karenanya Rasulullah saw diperintahkan untuk mengikuti mereka.
 
"Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah, maka ikutilah petunjuk mereka" (Qs. Al-an'am : 90).
 
 
Oleh karena itu, barang siapa mencukur janggutnya, berarti dia telah melakukan perbuatan yg bertentangan dengan suri teladan para nabi a.s.
 
 
Kesimpulan berikut ini memberikan peringatan kepada mereka yang mencukur janggutnya dengan melakukan tiga amalan buruk, yaitu :
 
a)   Bertentangan dengan qudrat manusia
 
b)   Mengikuti kehendak iblis serta mencemarkan kehendak Allah kepada mereka, dan
 
c)   Bertentangan dengan suri teladan para nabi.
 
 
2. Hadist ke 2 di atas berisi perintah untuk menumbuhkan janggut dan mencukur kumis. Lebih jauh lagi, menaati perintah Rasulullah saw, adalah kewajiban setiap muslim dan amal perbuatan yang bertentangan dengan sunnah beliau hukumnya haram.
 
 
3.   Dalam hadist ke-3 dan ke-4 disebutkan bahwa menumbuhkan janggut dan mencukur kumis adalah ciri-ciri orang islam yang beriman. Sedangkan perbuatan sebaliknya, seperti mencukur janggut dan memanjangkan kumis, merupakan ciri-ciri orang musyrik dan Majusi.
 
 
Nabi saw, mendorong ummatnya agar berpegang teguh pada sifat khas Islam dan juga mengajak mereka untuk menentang cara-cara orang musyrik. Meninggalkan ciri-ciri ke-Islaman dan mengikuti amalan kaum yang tidak mendapat petunjuk sangat diharamkan, Rasulullah saw bersabda :
 
"Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia tergolong mereka (kaum itu)."
 
 
Nah, barangsiapa yang mencukur janggutnya berarti meruntuhkan simbol Islam dan menegakkan cara-cara orang musyrik yang telah diperingatkan Rasulullah saw.  Kepada kaum muslimin. Oleh karana itu, orang-orang islam semestinya memperhatikan ancaman Nabi saw. Itu sehingga mereka tidak digolongkan ke dalam orang-orang musyrik pada hari kiamat nanti. Semoga Allah swt melindungi kida dari amal-amal yang demikian.
 
 
Hadist yang menyebutkan, 'Barang siapa tidak menggunting kumisnya, bukanlah dari golongan kami', dengan jelas ditujukan kepada orang yang mencukur janggutnya. Ancaman sekeras ini mengingatkan bahwa orang yang mencukur janggut telah disesatkan oleh dorongan iblis (hawa nafsu).
 
 
Rasulullah saw memberi tanda yang khas bagi ummatnya (yaitu mereka yang mengikuti sunnah beliau). Sekarang muncul pertanyaan, apakah sangat tipis perasaan cinta dalah hati seorang muslim terhadap Rasulullah saw sehingga tega membiarkan kesombongan yang tidak berpenyesalan, yaitu mencukur janggut ??
 
 
Nabi saw sangat membenci orang yang mencukur janggutnya, sehingga pada suatu ketika dua orang utusan Raja Kisra datang menghadap Rasulullah saw, sedangkan janggut mereka dicukur bersih dan kumis meraka panjang-panjang.
 
Nabi saw tak memandang keduanya dan sabdanya, "Celakalah kalian berdua, siapakah yang menyuruh kalian berbuat seperti ini?" Mereka menjawab "Tuan kami Raja Kisra memerintahkan kami" kemudian Rasulullah saw bersabda "Tetapi Tuhanku memerintahkanku agar menumbuhkan janggut dan menggunting kumisku." (Bidayah wan-Nihayah jilid IV/269, Hayatus Shahabah jilid I/45)
 
 
4.   Dalam hadist ke-6, nabi saw mengutuk lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.
 
Satu hal lagi yang perlu diingat bahwa ketika seseorang mencukur janggutnya, ternyata ia menyerupai wanita, padahal Allah swt telah membedakan laki-laki dan wanita dengan perintah memanjangkan janggut. Oleh karena itu, mereka yang mencukur janggutnya dan menyerupai wanita akan dilaknat oleh Allah swt.
 
 
Para ahli fiqih sepakat bahwa menumbuhkan janggut hukumnya wajib, karena perbuatan ini merupakan ciri-ciri seorang muslim; sedangkan mencukur atau memotong janggut kurang dari satu kepal adalah haram dan merupaka suatu dosa besar.
 
 
Di dalam kitab Nasbur-Raj jilid II hal 458, Abu Hurairah r.a meriwayatkan sebuah hadits tentang janggut. Ia mengatakan bahwa menurut syariat Islam, panjang janggut tidak boleh kurang dari satu kepal, karena perbuatan itu dilarang oleh syariat Islam, sebuah hadits menyebutkan :
 
"Memotong janggut ketika panjangnya kurang dari satu kepal menyerupai orang barat dan banci. Oleh karena itu, tidak dibenarkan bagi siapapun untuk berbuat demikian, karena mencukur bersih janggut adalah amalan orang hindu dan majusi dari persia." (Shami Tabigh hal.418)
 
 
Sebuah hadits lagi menyebutkan :
 
Nabi saw bersabda,"Tentanglah orang-orang musyrik dengan memanjangkan janggutmu." (Hr. Bukhari dan Muslim)
 
 
Lebih jauh lagi diterangkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa tidak memotong kumisnya, bukan dari golongan kami." (Hr. Ahmad dan Nasa'I)
 
 
Orang-orang harus berpikir wajar tentang menumbuhkan janggut dan bertekad untuk tidak melakukan dosa yang menyebabkan mereka dihinakan. Kita semua harus berdo'a kepada Allah, agar diberi kekuatan untuk mengangkat simbol-simbol Islam dan menghindarkan diri dari menjadikan janggut hanya sebagai kewajiban saja, tanpa arti.
 
 
Demikian pula mesti ada usaha untuk memanjangkan janggut sebagaimana upaya untuk mengekalkan karunia Ilahi dalam diri. Merupakan kewajiban setiap ummat Islam untuk mengangkat simbol Islam (seperti memanjangkan janggut) dan menghidupkan amalan sunnah ini di lingkungan masyarakatnya, dengan harapan jika kita dibangkitkan pada hari kiamat, penampilan kita akan seperti seorang muslim. Memang ada sebagian secara khusus, sedangkan sebagian lainnya hanya dengan syafaat Nabi Muhammad saw, sebuah hadits menyebutkan :
 
"Dari Abu Hurairah ra, sesusungguhnya Rasulullah saw bersabda, "Semua ummatku akan masuk surga, kecuali yang menolak." Sahabat bertanya, "Siapa yang menolak itu?" Nabi saw bersabda, "Barangsiapa yang mengikuti sunnahku akan masuk surga, dan barangsiapa yang tidak menaati perintahku, maka dia menolak aku."